Teori Penciptaan Alam Semesta (Steady State) adalah model kosmologi yang dikembangkan pada akhir tahun 1940-an sebagai alternatif dari teori Big Bang. Dikemukakan oleh tiga ilmuwan terkemuka—Fred Hoyle, Thomas Gold, dan Hermann Bondi—teori ini berpendapat bahwa alam semesta selalu ada dan akan selalu ada dalam keadaan yang relatif sama sepanjang waktu.
Apa Itu Teori Steady State?
Berbeda dengan teori Big Bang yang menyatakan bahwa alam semesta berawal dari satu titik singularitas, Teori Penciptaan Alam Semesta (Steady State) mengusulkan bahwa alam semesta tidak memiliki awal dan akhir. Teori ini didasarkan pada “Prinsip Kosmologis Sempurna” yang menyatakan bahwa alam semesta terlihat sama dari segala arah (isotropik) dan dari setiap lokasi (homogen), tidak hanya dalam dimensi ruang, tetapi juga dalam dimensi waktu.
Prinsip Dasar Teori Steady State
Konsep utama yang mendasari Teori Penciptaan Alam Semesta (Steady State) meliputi:
Penciptaan Materi Berkelanjutan
Salah satu elemen paling kontroversial dari teori ini adalah gagasan tentang “penciptaan materi berkelanjutan.” Para pendukung teori Steady State mengusulkan bahwa ketika alam semesta mengembang, materi baru terus-menerus tercipta di ruang kosong untuk mempertahankan densitas rata-rata alam semesta.
Tanpa Awal, Tanpa Akhir
Menurut Teori Penciptaan Alam Semesta (Steady State), alam semesta tidak memiliki awal atau akhir. Alam semesta ada selamanya dalam kondisi yang relatif sama, dengan materi baru terus diciptakan untuk mengkompensasi pengembangan.